Senin, 19 Februari 2024

Menginterpretasi Teks Laporan Hasil Observasi secara Kritis

I. Definisi dan Karakteristik Teks Laporan Hasil Observasi

Teks laporan hasil observasi teks yang berisi informasi atau penjabaran umum yang didapatkan dari hasil pengamatan (observasi). Tujuan kegiatan pengamatan (observasi) adalah mendapatkan informasi tentang tingkah laku, kondisi, keadaan, atau situasi dari objek yang diteliti. Oleh karena didapat dari pengamatan langsung secara cermat, informasi yang diperoleh berupa data faktual, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Berdasarkan pengertian teks laporan hasil observasi, dapat dirumuskan karakteristik teks laporan hasil observasi sebagai berikut:

a. Bersifat objektif dan spesifik.

b. Disusun berdasarkan fakta.

c. Disajikan secara lengkap dan mudah dipahami.

II. Struktur Teks Laporan Hasil Observasi

Struktur teks laporan hasil observasi dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pernyataan umum

Bagian pernyataan umum berisi informasi umum tentang objek yang dilaporkan, misalnya nama objekk (termasuk nama ilmiah jika ada) dan klasifikasi secara umum.

2. Deskripsi bagian

 Deskripsi bagian berisi uraian hal-hal yang dilaporkan secara terperinci. Jika objek yang diobservasi hewan, uraiannya mencakup ciri fisik, habitat, makanan, dan perilaku. Jika objek yang diobservasi tumbuhan, uraiannya mencakup ciri fisik bunga, akar, buah atau bagian yang lain. Jika yang dilaporkan benda atau objek, yang diuraikan berupa klasifikasi objek dari jenis, macam, serta sifat-sifat khusus objek tersebut.

3. Deskripsi manfaat/simpulan

Bagian ini berisi deskripsi manfaat objek yang dilaporkan dan ringkasan secara umum dari hal-hal yang dilaporkan.

 

III. Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi

1. Menggunakan kata benda umum.

2. Menggunakan kata kerja material.

3. Menggunakan kata kopula.

4. Menggunakan kata pengelompokkan.

5. Menggunakan kata keadaan.

6. Menggunakan kata teknis.







 


Selasa, 06 Februari 2024

Elegi Senja Sore Hari

 

Elegi Senja Sore Hari

Karya Adinda Erdiana

 “Orang-orang kota memang tidak berperikemanusiaan. Matanya telah dihijaukan oleh kertas-kertas bernominal hingga buta terhadap kawan. Persetan dengan persahabatan! Harusnya aku sudah bisa pulang, namun sampai saat ini tubuhku masih terpaku di depan layar tipis yang sedang banyak dikagumi orang. Sesal! Sesak! Mendengar kabar ada janur kuning melengkung di depan tenda biru rumah suamiku.”

 

Matahari sore ini rasanya tak seperti biasanya, tak ada gurat jingga di lembaran awan-awan cirrus. Lompong. Hampa. Seakan alam sedang menggambarkan dan menceritakan perasaanku saat ini ke semua orang. Benar saja. Dewa Indra sepakat dengan pernyataanku, ia menurunkan hujan, lengkap dengan angin kencang, namun bukan topan, bukan juga puting beliung. Petirnya pun menari-menari seakan mengejekku yang sedari tadi belum pulang karena kerjaan tak kunjung kelar. Sungguh sinkron antara perasaanku dengan alam saat ini. Ingin sekali memanjakan tubuhku dengan cuaca seperti ini, rebahan sembari menonton televisi, atau menyeduh kopi hitam yang ditemani selembar roti coklat. Namun apa daya tuntutan pekerjaan tak terbantahkan. Pupilku melebar, menelisik ke arah ibu renta yang sedang berteduh di bawah pohon beringin itu. Seketika teringat ibu dan keluargaku yang berada di desa.

 

“Neni.. Woy!! Lagi mikirin apa kamu?” pertanyaan Arum menyadarkan aku dari sebuah lamunan panjang.

“Sudahlah, Nen. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting, lanjutkanlah pekerjaanmu,” timpal Arum lagi. Aku terdiam.

 

            Aku tidak sedang memikirkan hal-hal yang tidak penting, aku sedang memikirkan nasibku. Nasib orang desa yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan tambahan uang demi menyekolahkan anak-anakku supaya mereka tidak bernasib sama sepertiku. Tidak hanya itu, ibuku yang sudah renta pun kini sakit-sakitan, aku juga harus mengobatinya. Sedangkan, suamiku hanya buruh tani yang ikut bekerja di lahan orang. Mana mungkin aku hanya berdiam diri di rumah, bergantung kepada suamiku. Aku perlu mencari pekerjaan di kota. Namun, kehidupan di kota sungguh kejam, semuanya diukur dengan uang. Orang yang beruang akan dihormati bak raja, namun mirisnya orang tak beruang sepertiku harus mengikuti apa yang mereka mau. Tak dihargai sudah menjadi makanan sehari-hari. Sebenarnya aku rindu dengan anak-anakku, ibuku yang sudah renta, dan suamiku yang pasti kesepian sepanjang malamnya. Namun, inilah konsekuensi orang miskin yang ingin merubah nasib supaya lebih baik. Sering kali aku ingin menyerah, ingin pulang ke kampung halaman, tetapi tekadku lebih besar dari egoku. Bersabar merupakan salah satu cara untuk sedikit mengurangi rasa sesak dalam hati.

 

“Nen, udah dong ngelamunnya, ada telfon tuh,” ucap Arum yang seketika menyadarkanku kembali dari lamunan.

 

Arum adalah sahabatku ketika sedang duduk di bangku SMA. Ialah orang yang mengajakku untuk bekerja di Ibukota ini. Ya, Kota Jakarta. Kota yang padat akan segala aktivitas di dalamnya, kota sibuk yang membuat orang-orang yang tinggal di sana lupa akan kebersamaan.

 

“Eh, iya, Rum.” Jawabku sembari bergegas mengangkat telfon. Ternyata telfon dari suamiku.

“Dek, maafkan aku baru sempat mengabarimu. Aku terpaksa meminjam uang di Bu Lela sebesar lima juta untuk keperluan Ibu.” Jelas mas Ridwan dengan nada putus asa.

“Lima juta kamu bilang mas? Mas tau itu bukan jumlah yang sedikit, Mas. Bagaimana pula jika kita tidak bisa membayarnya? Mas tau sendiri kan bagaimana kejamnya Bu Lela? Kembalikan uang itu, Mas, aku akan akan meminjam kepada Arum terlebih dahulu,” jawabku dengan mata berkaca-kaca.

“Penyakit ibu bertambah parah dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit untuk berobat dek, maafkan aku,” desah mas Ridwan seperti sebuah keluhan.

           

Tanpa berfikir panjang, aku memberanikan diri untuk meminjam uang ke Arum, pasti dia akan meminjamkannya karena dia adalah sahabatku. Aku juga berniat untuk mengambil cuti untuk melihat kondisi keluargaku di desa.

 

“Rum, bolehkah aku meminjam uang lima juta kepadamu? Aku sungguh membutuhkan uang itu untuk biaya pengobatan ibu. Mas Ridwan terpaksa meminjam uang ke Bu Lela. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kejamnya Bu Lela? Tolong bantu aku sekali ini saja ya, Rum dan izinkan aku untuk mengambil cuti seminggu ke depan. Aku khawatir dengan keadaan keluargaku di desa,” pintaku dengan nada memelas.

“Apakah kamu tidak lihat aku sedang bekerja? Kamu ini ngomong apa? Mana bisa aku meminjamkanmu uang lima juta? Dari mana kamu bisa mengembalikan uangku nantinya? Kamu tidak boleh cuti sebelum pekerjaanmu selesai. Kamu sudah menyanggupi pekerjaan ini, jadi kamu harus menerima konsukuensinya,” jawaban Arum membuat kepalaku seperti dihantam tumpukan-tumpukan batako.

 

Aku tidak menyangka bahwa Arum akan mengucapkan kalimat seperti itu kepadaku. Arum telah berubah. Seperti monster yang haus akan uang. Kejam. Beringas. Ibukota telah merubahnya menjadi orang tak berperasaan. Kini, kepada siapa lagi aku akan bergantung di sini? Siapa lagi orang yang bisa menampung keluh kesahku di sini? Tak ada satu pun. Sahabatku pun sudah seperti orang asing bagiku. Sore hari bergurat jingga dan secangkir teh madulah yang akan menjadi teman selama aku menyelesaikan pekerjaanku di sini.

Sebulan telah berlalu, tak ada kabar sekali pun dari keluarga di kampung. Aku sudah tidak bisa membendung rasa khawatirku. Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi pekerjaan ini dan pulang ke kampung. Arum sudah tidak peduli dengan keadaanku. Ia lebih memilih uang daripada persahabatan. Tak mengapa bagiku, walaupun begitu ia sudah berniat baik karena telah menawarkan pekerjaan untukku.

Terminal Kalideres mengingatkanku akan 3 tahun silam, pertama kali aku menginjakkan kakiku di ibukota ini. Kini, busnya semakin banyak, orang-orang memadati tiap-tiap sudut tempat ini. Ada yang turun dan akan memulai kerasnya hidup di kota ini, ada pula yang akan naik karena telah putus asa. Itu hanya dugaanku saja, mungkin bisa benar ataupun meleset. Aku hanya ingin menghibur diriku dengan cara menyamakan nasib orang lain agar sama sepertiku. Perjalanan Jakarta—Brebes memakan waktu kurang lebih 4 jam. Selama itu aku tidak bisa memejamkan mataku, padahal rasa kantuk telah bergelanyut di pangkal mata. Pikiranku bercampur aduk, detak jantung juga seperti dikejar tujuh anjing milik tetangga. Resah.

Terminal Ketanggungan masih sama sejak aku tinggal, bedanya sekarang sudah banyak ojek-ojek berjaket seragam yang siap mengantar para pemudik yang telah pulang ke kampung halaman. Aku memesan satu ojek yang dikendarai oleh Ferdi. Di sepanjang jalan, kami bercengkrama untuk menghilangkan rasa canggung dan supaya tidak bosan. Memasuki jalan kampungku, aku melihat banyak orang-orang berdandan rapi, berpasang-pasangan seperti hendak menuju suatu pesta besar, bahkan aku mengenali salah satu dari mereka. Tatapan mereka kepadaku memelas layaknya ada yang sedang tidak beres dengan diriku. Aku meminta mas Ferdi untuk menambah laju kecepatan motor, aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah.

Suasana desaku masih sangat asri beda dengan udara di kota, namun kali ini aku tidak bisa bernafas dengan baik, seperti tidak ada oksigen di desa ini. Tubuhku kaku, terpaku di atas tanah kelahiranku, tumpukan-tumpukan batako seperti menghujam kepalaku berkali-kali, bibirku kelu, mataku buram, telingaku tuli. Ragaku kaku. Lumpuh seketika. Bagaimana tidak demikian? Aku melihat janur kuning melengkung di tenda biru rumah suamiku. Kukira anakku pertama telah dilamar oleh orang tanpa sepengetahuanku, namun ternyata lebih sadis lagi. Suamiku yang berada di kursi itu, bersanding bersama janda kampung ini. Ya. Bu Lela. Aku sudah tidak bisa mengendalikan ragaku, tersungkurlah aku.

 

* * *

 

Aku mencoba membuka mata perlahan. Rasanya berat, namun aku terus mencobanya. Orang-orang yang aku kenali telah mengelilingi tubuhku yang telah terbaring di atas ranjang pengantin. Ini bukan ranjang pengantinku, melainkan ranjang pengantin suamiku dengan istri barunya. Banyak pertanyaan yang sudah ingin aku lontarkan, namun bibir ini tetap saja kelu, perlahan pipi ini mulai membasah.

“Nduk, Neni, cah ayu.. Maafkan Ibu dan suamimu ya, ini semua adalah konsekuensi yang harus kita terima. Mas Ridwan tidak bisa menolak permintaan Bu Lela untuk menikahinya karena keluarga kita tidak bisa membayar hutang kepadanya,” suara ibu memecahkan keheningan sekaligus menjawab pertanyaan yang belum sempat aku lontarkan. Aku hanya terdiam, tatapanku kosong, pikiran dan hatiku saling beradu, berkecamuk tak karuan. Kali ini, aku berniat kembali lagi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang layak, mengumpulkan uang dan menebus suamiku kembali.

Senin, 02 April 2018

Ulasan Cerpen “Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang”

Nama : Adinda Erdiana
Npm : 16410113
Kelas : 4C

Secara keseluruhan saya tidak begitu menyukai atau kurang tertarik dengan cerpen yang bahasanya susah dipahami seperti halnya novel ini, karena kurang mengena di hati. Apabila suatu cerpen mudah untuk dipahami maksud dan bahasanya mungkin akan lebih menarik. Ending dari cerpennya pun sedikit membingungkan, jadi susah untuk dipahami. Cerpen ini kurang cocok untuk anak-anak remaja.
Namun, cerita pendek seperti ini sangat cocok untuk bahan pembelajaran supaya para pembaca bisa menerka-nerka pesan apa yang tersimpan di dalamnya. Dan bisa dianalisis untuk
Setelah saya membaca cerpen ini, saya sedikit bingung dengan alur ceritanya karena ada dua tokoh yang memiliki kejadian hampir sama dalam cerita tersebut.
Yang pertama tokoh Aku, ia melihat seorang gadis kecil bermata cemerlang yang sedang memandanginya ketika ia sedang berada di stasiun S dan akan melakukan perjalanan menuju rumah temannya yaitu di Kota J. Dia teringat bahwa temannya itu akan mengenalkan adiknya yang cantik seperti bintang film kesukaan tokoh Aku. Lalu pada saat sampai di rumah temannya, tokoh Aku melihat seorang gadis namun bukan gadis kecil melainkan gadis muda yang memiliki alis tebal dan bermata cemerlang, gadis muda itu mirip sekali dengan gadis kecil yang ia lihat di stasiun tadi. Ia berpikir apakah gadis kecil itu memiliki hubungan dengan gadis muda yang ditemuinya saat ini. Dan ternyata gadis muda itu bukan adik temannya melainkan istri dari temannya.
Yang kedua adalah tokoh yang bernama Sahlan, pada saat ia berada di stasiun S ia melihat seorang gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang yang sedang memandanginya, senyumnya manis sekali. Sama persis dengan kejadian yang dialami oleh tokoh Aku. Saat itu ia juga akan diperkenalkan dengan seorang gadis oleh ibunya, dan ternyata gadis itu adalah Shakila istrinya yang ditemuinya di kereta waktu itu.
“beberapa tahun kemudian ketika aku pulang ke M setelah capek keluyuran seperti kau sekarang, ibuku memperkenalkanku dengan seorang gadis cantik beralis tebal dan bermata cemerlang, gadis yang tak lain dan tak bukan ialah gadis yang pernah kulihat di stasiun S. Singkat cerita, ketika ibuku menawariku untuk mengawini gadis yang bernama India itu, tanpa pikir panjang aku mau.” Kalimat tersebut mendukung kesamaan cerita yang dialami dari tokoh Aku. Lalu sebenarnya apakah teman tokoh Aku yang bernama Sahlah itu adalah cerminan dari tokoh Aku?
Lalu yang saya bingungkan lagi, mengapa gadis beralis tebal dan bermata cemerlang itu tidak pernah bicara dan hanya menggunakan mulutnya untuk makan dan bernyanyi saja? Itu pun dia lakukan jika berada di kamar mandi, dan jika sedang mencuci atau memasak. Padahal dia tidak bisu, dia berbicara hanya menggunakan mata dan senyumannya, tetapi anehnya para tokoh sangat mengaguminya.
Di akhir cerita tokoh Aku tiba-tiba berjumpa dengan gadis kecil beralis tebal dan bermata cemerlang itu dan ia pun tidak tahu dari mana datangnya gadis kecil itu.
Cerpen ini sungguh membuat para pembacanya bertanya-tanya. Saya jadi penasaran, sebenarnya pesan apakah yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini?
Kesimpulan yang bisa saya ambil dalam cerpen ini adalah bahwa tokoh Sahlan itu adalah tokoh Aku yang diceritakan ulang dan dia sedang membayangkan bagaimana pertemuannya dengan istrinya yang sangat ia sayangi. Baginya istrinya yang bernama Shakila itu adalah perempuan yang sangat berharga sampai-sampai ia menggambarkan sebegitu cantik istrinya. Ia beralis tebal dan bermata cemerlang, dia sangat santun dalam berbicara, sampai-sampai lebih baik menyanyi daripada berbicara yang tidak perlu. Ini juga bisa menjadi amanat yang dapat diambil dari cerpen ini.
Kesimpulan lain yang saya tangkap adalah tentang jodoh, jodoh akan dipertemukan di waktu yang tepat, dan kita harus percaya bahwa jodoh yang dipersiapkan untuk kita akan dipertemukan pada saat yang tidak kita duga sebelumnya. Ketika sudah bertemu jodoh, sayangilah dan hormatilah mereka.
Sekian dari saya, terima kasih.

Sabtu, 22 April 2017

Semarak Kartini UPGRIS 2017


Jumat, 21 April 2017, Universitas PGRI Semarang mengadakan acara yang sangat meriah yaitu "Semarak Kartini 2017". Acara tersebut diselenggarakn dengan tujuan untuk memperingati hari kartini serta memberikan penghargaan untuk wanita-wanita hebat serta mandiri di Indonesia.

Acara tersebut dihadiri oleh wanita hebat yang sangat menginspirasi di Indonesia khususnya kota Semarang, diantaranya ada Ibu Ita sebagai wakil wali kota Semarang dan Puteri Indonesia. Beliau menyampaikan beberapa pesan yang menginspirasi saat sesi talkshow.
Ibu Ita menuturkan “Tentunya seiring perkembangan zaman, perempuan seharusnya dapat diandalkan di bidang-bidang yang juga strategis, sama mampunya dengan laki-laki."
Hal tersebut merupakan cita-cita Ibu Kartini yang sudah terealisasi sekarang. Yang kedua pesan dari Puteri Indonesia adalah sebagai wanita Indonesia kita tidak hanya bisa untuk menjadi sekadar cantik tapi juga harus cerdas, mandiri, dan berinovasi agar mampu bersaing dalam kehidupan bermasyarakat.

Setelah acara Talkshow, ada acara penobatan puteri Kartini 2017 yang pesertanya yaitu mahasiswi fakultas FPBS UPGRIS. Adanya kegiatan tersebut menurut saya sangat bagus dan harus selalu diselenggarakan setiap tahunnya, karena bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi para mahasiswi untuk bisa berprestasi dan percaya diri.

Jadi, saya menyimpulkan kegiatan semarak kartini 2017 ini sangat menginspirasi dan memberikan motivasi untuk para wanita agar tidak mau kalah bersaing dalam hal kebaikan dengan para lelaki. Juga wanita bisa menjadi mandiri, sukses, cerdas dan memiliki wawasan yang luas.

Terima kasih

Sabtu, 04 Maret 2017

Pria Berjambang

Siapa dia?
Mengetuk pintu rumahku dini hari
Oh...
Seorang pria
Dengan tubuh kekarnya
Tinggi menjulang
Berdiri tegap di hadapanku
Kokoh bagai istana kerajaan
Kupandangi lagi...

Ada jambang menghiasi dagu manisnya
Mata tajamnya seolah menusuk mataku
Hingga terasa ke jantung hati

Dag... dig... dug...
Detak jantung tak mau lagi berkompromi
Terpesona aku melihatnya
Namun hati masih bertanya

Siapakah dia?

Semarang, 4 Maret 2017

Kehilangan Penumpang

Seketika suasana sepi
Riuh suara anak-anak pun tak lagi terdengar
Kicau burung berhenti berdendang

Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Bangunan hijau di tengah kota itu
Seakan tak mau berhenti berkumandang

Karpet merah megah
Ruangan dingin nan nyaman
Namun, sayang sepi penumpang

Hanya ada
Satu wanita setengah baya
Duduk dan bercerita
Di atas sajadah

Kemana perginya para penumpang?

Apakah sedang sibuk membenahi dasi yang miring?
Apakah sedang sibuk menghitung pundi-pundi?
Apakah sedang sibuk menatapi layar bergambar itu?
Atau mungkin..

Hanya sedang berbaring menunggu ajal?


Semarang, 4 maret 2017

Menginterpretasi Teks Laporan Hasil Observasi secara Kritis I. Definisi dan Karakteristik Teks Laporan Hasil Observasi Teks laporan hasil ob...