Elegi Senja Sore Hari
Karya Adinda Erdiana
“Orang-orang kota memang tidak
berperikemanusiaan. Matanya telah dihijaukan oleh kertas-kertas bernominal
hingga buta terhadap kawan. Persetan dengan persahabatan! Harusnya aku sudah
bisa pulang, namun sampai saat ini tubuhku masih terpaku di depan layar tipis
yang sedang banyak dikagumi orang. Sesal! Sesak! Mendengar kabar ada janur
kuning melengkung di depan tenda biru rumah suamiku.”
Matahari sore ini
rasanya tak seperti biasanya, tak ada gurat jingga di lembaran awan-awan cirrus. Lompong. Hampa. Seakan alam
sedang menggambarkan dan menceritakan perasaanku saat ini ke semua orang. Benar
saja. Dewa Indra sepakat dengan pernyataanku, ia menurunkan hujan, lengkap
dengan angin kencang, namun bukan topan, bukan juga puting beliung. Petirnya
pun menari-menari seakan mengejekku yang sedari tadi belum pulang karena
kerjaan tak kunjung kelar. Sungguh sinkron antara perasaanku dengan alam saat
ini. Ingin sekali memanjakan tubuhku dengan cuaca seperti ini, rebahan sembari
menonton televisi, atau menyeduh kopi hitam yang ditemani selembar roti coklat.
Namun apa daya tuntutan pekerjaan tak terbantahkan. Pupilku melebar, menelisik
ke arah ibu renta yang sedang berteduh di bawah pohon beringin itu. Seketika
teringat ibu dan keluargaku yang berada di desa.
“Neni.. Woy!! Lagi
mikirin apa kamu?” pertanyaan Arum menyadarkan aku dari sebuah lamunan panjang.
“Sudahlah, Nen. Tidak
perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting, lanjutkanlah pekerjaanmu,” timpal
Arum lagi. Aku terdiam.
Aku
tidak sedang memikirkan hal-hal yang tidak penting, aku sedang memikirkan
nasibku. Nasib orang desa yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan
mendapatkan tambahan uang demi menyekolahkan anak-anakku supaya mereka tidak
bernasib sama sepertiku. Tidak hanya itu, ibuku yang sudah renta pun kini
sakit-sakitan, aku juga harus mengobatinya. Sedangkan, suamiku hanya buruh tani
yang ikut bekerja di lahan orang. Mana mungkin aku hanya berdiam diri di rumah,
bergantung kepada suamiku. Aku perlu mencari pekerjaan di kota. Namun,
kehidupan di kota sungguh kejam, semuanya diukur dengan uang. Orang yang
beruang akan dihormati bak raja, namun mirisnya orang tak beruang sepertiku
harus mengikuti apa yang mereka mau. Tak dihargai sudah menjadi makanan sehari-hari.
Sebenarnya aku rindu dengan anak-anakku, ibuku yang sudah renta, dan suamiku
yang pasti kesepian sepanjang malamnya. Namun, inilah konsekuensi orang miskin
yang ingin merubah nasib supaya lebih baik. Sering kali aku ingin menyerah,
ingin pulang ke kampung halaman, tetapi tekadku lebih besar dari egoku. Bersabar
merupakan salah satu cara untuk sedikit mengurangi rasa sesak dalam hati.
“Nen, udah dong
ngelamunnya, ada telfon tuh,” ucap Arum yang seketika menyadarkanku kembali
dari lamunan.
Arum adalah sahabatku
ketika sedang duduk di bangku SMA. Ialah orang yang mengajakku untuk bekerja di
Ibukota ini. Ya, Kota Jakarta. Kota yang padat akan segala aktivitas di
dalamnya, kota sibuk yang membuat orang-orang yang tinggal di sana lupa akan
kebersamaan.
“Eh, iya, Rum.” Jawabku
sembari bergegas mengangkat telfon. Ternyata telfon dari suamiku.
“Dek, maafkan aku baru
sempat mengabarimu. Aku terpaksa meminjam uang di Bu Lela sebesar lima juta
untuk keperluan Ibu.” Jelas mas Ridwan dengan nada putus asa.
“Lima juta kamu bilang
mas? Mas tau itu bukan jumlah yang sedikit, Mas. Bagaimana pula jika kita tidak bisa
membayarnya? Mas tau sendiri kan bagaimana kejamnya Bu Lela? Kembalikan uang
itu,
Mas, aku akan akan meminjam kepada Arum
terlebih dahulu,” jawabku
dengan mata berkaca-kaca.
“Penyakit ibu bertambah
parah dan aku harus segera membawanya ke rumah sakit untuk berobat dek, maafkan
aku,” desah mas Ridwan seperti sebuah keluhan.
Tanpa berfikir panjang,
aku memberanikan diri untuk meminjam uang ke Arum, pasti dia akan
meminjamkannya karena dia adalah sahabatku. Aku juga berniat untuk mengambil
cuti untuk melihat kondisi keluargaku di desa.
“Rum, bolehkah aku
meminjam uang lima juta kepadamu? Aku sungguh membutuhkan uang itu untuk biaya
pengobatan ibu. Mas Ridwan terpaksa meminjam uang ke Bu Lela. Kamu tahu sendiri
kan bagaimana kejamnya Bu Lela? Tolong bantu aku sekali ini saja ya, Rum dan
izinkan aku untuk mengambil cuti seminggu ke depan. Aku khawatir dengan keadaan
keluargaku di desa,” pintaku dengan nada memelas.
“Apakah kamu tidak
lihat aku sedang bekerja? Kamu ini ngomong apa? Mana bisa aku meminjamkanmu
uang lima juta? Dari mana kamu bisa mengembalikan uangku nantinya? Kamu tidak
boleh cuti sebelum pekerjaanmu selesai. Kamu sudah menyanggupi pekerjaan ini,
jadi kamu harus menerima konsukuensinya,” jawaban Arum membuat kepalaku seperti
dihantam tumpukan-tumpukan batako.
Aku tidak menyangka
bahwa Arum akan mengucapkan kalimat seperti itu kepadaku. Arum telah berubah.
Seperti monster yang haus akan uang. Kejam. Beringas. Ibukota telah merubahnya
menjadi orang tak berperasaan. Kini, kepada siapa lagi aku akan bergantung di
sini? Siapa lagi orang yang bisa menampung keluh kesahku di sini? Tak ada satu pun. Sahabatku pun sudah seperti orang
asing bagiku. Sore hari bergurat jingga dan secangkir teh madulah yang akan
menjadi teman selama aku menyelesaikan pekerjaanku di sini.
Sebulan telah berlalu,
tak ada kabar sekali pun
dari keluarga di kampung. Aku sudah tidak bisa membendung rasa khawatirku.
Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi pekerjaan ini dan pulang ke kampung. Arum
sudah tidak peduli dengan keadaanku. Ia lebih memilih uang daripada
persahabatan. Tak mengapa bagiku, walaupun begitu ia sudah berniat baik karena
telah menawarkan pekerjaan untukku.
Terminal Kalideres mengingatkanku
akan 3 tahun silam, pertama kali aku menginjakkan kakiku di ibukota ini. Kini,
busnya semakin banyak, orang-orang memadati tiap-tiap sudut tempat ini. Ada
yang turun dan akan memulai kerasnya hidup di kota ini, ada pula yang akan naik
karena telah putus asa. Itu hanya dugaanku saja, mungkin bisa benar ataupun
meleset. Aku hanya ingin menghibur diriku dengan cara menyamakan nasib orang
lain agar sama sepertiku. Perjalanan Jakarta—Brebes memakan waktu kurang lebih
4 jam. Selama itu aku tidak bisa memejamkan mataku, padahal rasa kantuk telah
bergelanyut di pangkal mata. Pikiranku bercampur aduk, detak jantung juga
seperti dikejar tujuh anjing milik tetangga. Resah.
Terminal Ketanggungan
masih sama sejak aku tinggal, bedanya sekarang sudah banyak ojek-ojek berjaket
seragam yang siap mengantar para pemudik yang telah pulang ke kampung halaman.
Aku memesan satu ojek yang dikendarai oleh Ferdi. Di sepanjang jalan, kami
bercengkrama untuk menghilangkan rasa canggung dan supaya tidak bosan. Memasuki
jalan kampungku, aku melihat banyak orang-orang berdandan rapi,
berpasang-pasangan seperti hendak menuju suatu pesta besar, bahkan aku mengenali
salah satu dari mereka. Tatapan mereka kepadaku memelas layaknya ada yang
sedang tidak beres dengan diriku. Aku meminta mas Ferdi untuk menambah laju
kecepatan motor, aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah.
Suasana desaku masih
sangat asri beda dengan udara di kota, namun kali ini aku tidak bisa bernafas
dengan baik, seperti tidak ada oksigen di desa ini. Tubuhku kaku, terpaku di
atas tanah kelahiranku, tumpukan-tumpukan batako seperti menghujam kepalaku
berkali-kali, bibirku kelu, mataku buram, telingaku tuli. Ragaku kaku. Lumpuh
seketika. Bagaimana tidak demikian? Aku melihat janur kuning melengkung di
tenda biru rumah suamiku. Kukira anakku pertama telah dilamar oleh orang tanpa
sepengetahuanku, namun ternyata lebih sadis lagi. Suamiku yang berada di kursi
itu, bersanding bersama janda kampung ini. Ya. Bu Lela. Aku sudah tidak bisa
mengendalikan ragaku, tersungkurlah aku.
*
* *
Aku mencoba membuka
mata perlahan. Rasanya berat, namun aku terus mencobanya. Orang-orang yang aku
kenali telah mengelilingi tubuhku yang telah terbaring di atas ranjang
pengantin. Ini bukan ranjang pengantinku, melainkan ranjang pengantin suamiku
dengan istri barunya. Banyak pertanyaan yang sudah ingin aku lontarkan, namun
bibir ini tetap saja kelu, perlahan pipi ini mulai membasah.
“Nduk, Neni, cah ayu..
Maafkan Ibu dan suamimu ya, ini semua adalah konsekuensi yang harus kita
terima. Mas Ridwan tidak bisa menolak permintaan Bu Lela untuk menikahinya
karena keluarga kita tidak bisa membayar hutang kepadanya,” suara ibu
memecahkan keheningan sekaligus menjawab pertanyaan yang belum sempat aku
lontarkan. Aku hanya terdiam,
tatapanku kosong, pikiran dan hatiku saling beradu, berkecamuk tak karuan.
Kali ini, aku berniat kembali lagi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang
layak, mengumpulkan uang dan menebus suamiku kembali.